Anies Baswedan Meresmikan Perubahan Nama Jalan di DKI Jakarta

Anies Baswedan Meresmikan Perubahan Nama Jalan di DKI Jakarta

Anies Baswedan Meresmikan Perubahan Nama Jalan di DKI Jakarta – Kini Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan telah meresmikan perubahan nama jalan di DKI Jakarta dengan nama-nama tokoh betawi.

Ada 22 nama jalan yang dirubah oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, nama jalan itu diganti dengan nama-nama tokoh betawi, salah satunya nama Entong Gendut. Nama Entong Gendut akhirnya diabadikan menjadi inama jalan di kawasan Jakarta Timur. Jalan Entong Gendut menggantikan nama Jalan Budaya yang terletak di Kramat Jati, Jakarta Timur.

Telah Dilansir dari situs resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan, pada waktu itu tanah tersebut dikuasai oleh perusahaan Hindia Timur Belanda atau VOC semakin luas.

Bahkan, tanah yang ada di sekitar benteng di Batavia diperuntukkan perwira dan dan pejabat tinggi VOC. Namun, tanah tersebut malah dijual kepada saudagar China yang kaya. Tanah-tanah inilah yang kemudian dikenal dengan nama tanah partikelir.

Penduduk yang berdiam di tanah tanah partikelir diwajibkan untuk mambayar pajak kepada pemilik tanah. Begitu juga dengan para petani yang menyewa tahan tersebut harus membayar cukai atau pajak yang ditentukan setiap sepuluh tahun sekali. Tak hanya itu saja, para petani yang menyewa tanah tersebut harus menyerahkan seperlimanya untuk diserahkan kepada pemilik tanah.

Baca Juga : KA Argo Sindoro Menabrak Mobil dI Tambun Bekasi

Ada juga pada sata tertentu para petani juga diharuskan untuk kerja di tanah milik tuan tanah tersebut tanpa beri upah. Atas tindakan tersebut timbullah perlawanan petani terhadap tuan tanah. Pada masa pemerintahan Kolonial Belanda, Codet merupakan daerah yang dikuasi oleh tuan tahan. Para tuan tanah tersebut bermarkas di Kampung Gedang.

Seluruh tanah di Condet dari Tanjung Timur sampai dengan Tanjung Barat telah dikuasai oleh tuan tanah. Pada waktu itu rakyat diharuskan membayar pajak yang ditagih oleh mandor dan centeng tuan tanah.

“Peristiwa berkelanjutan yang menimpa para petani akibat ulah tuan tanah tersebut menimbulkan keprihatian kelompok pencak silat di Batu Ampar pimpinan Entong Gendut,” ungkap situs Kemdikbud.

Mereka juga ingin memihak para petani dan mencegah apabila rumah dan tanah petani disita dan dijual, mereka juga membenci para tua tanah yang hidp foya-foya.